tag:blogger.com,1999:blog-62141797596424802012008-07-17T11:03:10.605+09:00Publikasi EkonomikuPublikasi Ekonomikuhttp://www.blogger.com/profile/01982054804493973403noreply@blogger.comBlogger8125tag:blogger.com,1999:blog-6214179759642480201.post-73943806341137297632008-07-02T23:50:00.002+09:002008-07-03T00:03:26.891+09:00Analisis Variabel Indikator Macroekonomi yang Berpengaruh terhadap Tingkat Inflasi di Indonesia<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span style="font-family:Arial;">PENDAHULUAN<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family:Arial;">1.1. Apa itu Inflasi<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family:Arial;"><span style=""> </span></span></b><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Pembangunan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari Keterlibatan sektor moneter dan perbankan. Sebagai salah satu unsur penting, sektor moneter dan perbankan sering dianggap mampu untuk memecahkan berbagai masalah ekonomi. Masyarakat secara positif masih memiliki pemahaman bahwa kebijakan pemerintah atas sektor moneter dan perbankan memiliki kekuatan yang lebih dari pada yang secara efektif dapat tercapai melalui instrumen tersebut, akibatnya timbul anggapan sektor moneter dan sektor perbankan mempunyai fungsi yang mampu memberikan pelayananbagi berlangsungnya sektor riil, kegiatan infestasi, kegiatan produksi, kegiatan distribusi maupun kegiatan konsumsi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Peranan Uang dalam Perekonomian, <span style="color:black;">Uang dan kegiatan ekonomi Perkembangan perekonomian dapat diamati dari dua sektor yang saling terkait yaitu :<o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">a. SEKTOR RIIL (pasar barang dan jasa) dan<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">b. SEKTOR MONETER (pasar uang).<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style=";font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Aliran uang akan sebanding dengan aliran barang dan jasa.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style=";font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Teori Klasik:<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">M x V = P x T<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style=";font-family:Arial;color:black;" lang="SV">dimana V dan T diasumsikan konstan dalam short run.</span><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Uang, Suku Bunga, dan Inflasi, Ketidakseimbangan uang beredar (<i>excess demand for money or excess money supply</i>) mempengaruhi harga (inflasi) dan suku bunga. Perubahan suku bunga terjadi sebagai akibat perubahan jumlah uang beredar yang mencerminkan interaksi antara sisi permintaan dan sisi penawaran. SBI menjadi acuan bagi perkembangan suku bunga pinjaman, simpanan, atau suku bunga di pasar uang.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang berkaitan dengan dampaknya terhadap makro ekonomi agregat; pertumbuhan ekonomi, keseimbangan eksternal, daya saing, tingkat bunga dan bahkan distribusi pendapatan. Inflasi juga sangat barperan dalam mempengaruhi mobilisasi dana lewat lembaga keuangan formal. Tingkat harga merupakan opportunity cost bagi masyarakat dalam memegang aset finansial. Semakin tinggi perubahan tingkat harga maka makin tinggi pula opportunity cost untuk memegang aset finansial. Artinya masyarakat akan merasa lebih beruntung jika memegang aset dalam bentuk rill dibandingkan aset finansial jika tngkat harga tetap tinggi. Jika aset finansial luar negeri dimasukkan sebagai salah satu pilihan aset, maka perbedaan tingkat inflasi dalam negeri dan internasional dapat menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing menjadi overvalued dan pada gilirannya akan menghilangkan daya saing komoditas Indonesia.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Untuk kepentingan mobilisasi dana dalam negeri, perbedaan tingkat inflasi akan menyebabkan timbulnya ekspetasi masyarakat terhadap terjadinya devaluasi dan mendorong timbulnya pelarian modal keluar negeri. Inflasi merupakan variabel penghubung antara tingkat bunga dan nilai tukar efektif, dimana dua variabel terakhir merupakan variabel penting dalam sektor publik. Kenaikan tingkat harga (inflasi) yang tinggi dapat menyebabkan;<o:p></o:p></span></p> <ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Memburuknya distribusi pendapatan<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">berkurangnya tabungan domestik yang merupakan sumber dana investasi bagi negara berkembang<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">terjadinya defisit dalam neraca perdagangan serta meningkatkan besarnya utang luar negeri<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">timbulnya ketidakstabilan politik<o:p></o:p></span></li></ol> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Berdasarkan ulasan diatas maka dapat didefenisikan Inflasi merupakan kenaikan didalam tingkat harga umum. Laju inflasi merupakan laju perubahan tingkat harga umum.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Krisis moneter 1997/1998 telah menuntut perubahan tatanan kelembagaan bangsa Indonesia menjadi Bank sentral yang independent. Perubahan ini didasari pada munculnya pendapat kuat yang mengatakan bahwa salah satu penyebab krisis adalah ketidak mampuan bank Indonesia bertindak objektif karena selama periode praktis kebijakan Bank Indonesia selalu dianggap terkait dengan kepentingan politik pemerintah. Perubahan tatanan ini diwujutkan pada penggantian Undang-undang No. 13 Tahun 1968 dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Dengan disahkannya Undang-Undang No.23 Tahun 1999, kebijakan moneter memasuki suatu era baru dalam sejarah moneter di Indonesia. Bank Indonesia selain menjadi lembaga independen juga mempunyai peran tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Dengan sistem nilai tukar mengambang, secara implisit tujuan kebijakan moneter di Indonesia adalah menjaga kestabilan harga, dalam perkataan lain Bank Indonesia mempunyai sasaran tunggal yaitu Inflasi. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Kondisi Inflasi di Indonesia sangat berfluktuasi pada sepuluh tahun terakhir, dimana kondisi ini secara teoritis dipengaruhi oleh berbagai variabel dan indikator makro ekonomi maupun yang bukan makro ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam penulisan atau kajian ini, penulis tertarik untuk melihat sejauh mana pengaruh variabel atau indikator makro ekonomi tersebut, dalam hal variabel atau indikator tersebut adalah;<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">a. Jumlah uang beredar<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Jumlah uang yang beredar biasa disebut juga dengan penawaran uang.<span style=""> </span>dalam suatu kurun waktu tertentu sangat penting dalam perekonomian suatu negara. Jumlah uang beredar dapat mengeser kondisi perekonomian dari baik ke buruk dan sebaliknya. Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan membuat kebijakan yang berhubungan dengan jumlah uang beredar. Melalui kebijakan moneter, pemerintah diasumsikan mampu mempengaruhi jumlah uang yang beredar, yaitu kebijakan diskonto, operasi pasar terbuka, manipulasi rasio simpanan legal (legal reserve) dan kontrol kredit. Bank sentral dapat mengubah tingkat diskonto, apabila tingkat diskonto dinaikan maka jumlah uang nominal yang beredar cenderung menurun dan sebaliknya, jika tingkat diskonto turun, maka jumlah uang nominal yang beredar cenderung naik. Operasi pasar terbuka dilakukan dengan menjual atau membeli obligasi dipasar bebas. Penjualan surat obligasi oleh pemerintah bertujuan untuk mengurangi jumlah uang beredar. Peningkatan jumlah uang beredar dipasar bebas dilakukan dengan membeli surat obligasi. Manipulasi rasio legal reserve dilakukan dengan mempengaruhi rasio simpanan legal minimum. Rasio simpanan legal minimum adalah angka banding minimum antara uang tunai dengan kewajiban giral bank. Pemerintah dapat menciptakan uang lebih banyak dari pada sebelumnya jika rasio simpanan legal minimum diturunkan. Sebaliknya, jumlah uang beredar dapat dikurangi dengan manaikan rasio simpanan legal minimum. Selanjutnya kontrol kredit selektif, menggunakan moral suasion sebagai salah satu bentuk pengawasan. Bank sentral pada moral suasion, secara informal mempengaruhi kebijakan bank-bank umum, khususnya mengenai kebijakan dalam perkreditan. Jumlah uang beredar<span style=""> </span><span style=""> </span><span style=""> </span><span style=""> </span>merupakan variabel atau indikator makro ekonomi yang menurut teori berpengaruh langsung terhadap kondisi inflasi suatu negara, jika jumlah uang beredar naik maka secara otomatis mempengaruhi peningkatan inflasi, dan sebaliknya jika jumlah uang beredar berkurang maka akan mempengaruhi menunrunkan inflasi, dalam hal ini Indonesia sebagai objek penelitian.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">b. <span style=""> </span>M2 <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Merupakan bagian yang mendefenisikan uang sebagai spekulator, Mencakup M1 ditambah tabungan dan simpanan berjangka lain yang, termasuk rekening pasar uang, Deposito berjangka dan juga dana lainnya yang berjangka panjang. Dalam teori ekonomi, M2 juga mempengaruhi tingkat inflasi suatu negara pada tingkat tertentu. Jika M2 naik maka Inflasi menurun, dan sebaliknya jika M2 menurun maka inflasi meningkat. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">c. <span style=""> </span>Suku Bunga Kredit<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Suku bunga kredit merupakan suatu tingkatan beban atau resiko yang dibebankan atau dikenakan pihak bank atau pemberi kredit terhadap kreditur yang meminjam sejumlah dana. Tingkat suku bunga kredit secara teori ekonomi juga ikut mempunyai andil dalam mempengaruhi tingkat inflasi suatu negara, karena secara tidak langsung mempengaruhi kondisi moneter yang berhubungan dengan inflasi. Jika suku bunga kredit dinaikan maka tentunya orang akan enggan untuk meminjam uang, dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap penurunan jumlah uang beredar dan penurunan inflasi, dan sebaliknya jika suku bunga diturunkan maka tentunya orang akan berani untuk meminjam uang dan seterusnya akan menyumbang bagi kenaikan jumlah uang beredar dan kenaikan inflasi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">d. <span style=""> </span>Produk Domestik Bruto.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Pendapatan nasional sangat mempengaruhi pola konsumsi, biasanya pola konsumsi penduduk yang meningkat di negara sedang berkembang akan diikuti oleh kecenderungan meningkatkan impor, hal ini disebabkan produktivitas di negara tersebut belum mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Dalam kenyataan, amat sulit untuk mencatat jumlah unit barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu. Sehingga untuk menaksir perubahan output angka yang digunakan adalah nilai moneternya (uang) yang tercermin dalam nilai Produk Domestik Bruto (PDB). krisis ekonomi yang multidimensional di kawasan Asia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya sehingga PDB Indonesia cenderung menurun. Analisis makro ekonomi menganggap bahwa makin besar pendapatan nasional suatu negara maka semakin besar pula inflasi. Krisis moneter yang melanda Indonesia yang dimulai dari pertengahan tahun 1997 sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan dan berakibat terjadinya inflasi. PDB merupakan nama yang diberikan kepada total nilai barang jadi dan jasa yang dihasilkan didalam suatu negara selama satu tahun tertentu. Indeks harga dalam PDB secara teori ekonomi juga berpengaruh negatif pergerakan Inflasi suatu negara. Jika PDB naik maka akan berpengaruh pada penurunan inflasi<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Dari ulasan teoritis diatas, maka penulis ingin melakukan kajian untuk melihat hubungan dan pengaruhnya variabel-variabel tersebut dengan tingkat inflasi dengan judul kajian <a name="OLE_LINK2"></a><a name="OLE_LINK1"><span style="">pengaruh indikator makroekonomi terhadap tingkat Inflasi di Indonesia</span></a><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">1.2. Masalah<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">”Sejauh mana pengaruh jumlah uang beredar, M2, suku bunga kredit dan produk domestik bruto terhadap Inflasi di Indonesia”.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">1.4. Tujuan Penulisan<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="a"><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh jumlah uang beredar, M2, suku bungan kredit dan produk domestik bruto terhadap Inflasi di Indonesia.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Sebagai bahan kajian yang tentang kebijakan moneter Indonesia khususnya yang berpengaruh terhadap Inflasi di Indonesia.<o:p></o:p></span></li></ol> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">PEMBAHASAN<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">2.1. Data. <o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Data dalam penulisan kajian ini berasal dari data sekunder yang penulis peroleh dari sumber situs Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik Indonesia. </span><span lang="FI" style="font-family:Arial;">Data merupakan data runtun waktu dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2007.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Data yang penulis pakai dalam penulisan kajian ini adalah data tingkat Inflasi, jumlah uang beredar, M2, suku bunga kredit, dan data produk domestik bruto, selama kurun waktu sepuluh tahun dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2007. Data-data tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1. adalah sebagai berikut;<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Tabel 2.1<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Inflasi, Jumlah Uang Beredar, M2, Suku Bunga Kredit<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Dan Produk Domestik Bruto<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Tahun 1998-2007<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">(%)<o:p></o:p></span></b></p> <table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"> <tbody><tr style=""> <td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" width="60"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >Tahun<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 50.55pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="67"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >Inflasi<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >(Y)<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 117pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="156"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >Jumlah Uang Beredar <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >(X1)<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 45pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="60"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >M2<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >(X2)<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 94.15pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="126"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >Suku bunga kredit<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >(X3)<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 70.35pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="94"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >Produk domestik bruto<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >(X4)<o:p></o:p></span></p> </td> </tr> <tr style=""> <td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="60"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" ><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >1998<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >1999<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2000<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2001<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2002<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2003<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2004<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2005<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2006<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2007<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 50.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" ><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >77,60<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2,00<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >9,35<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >12,55<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >10,03<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >5,06<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >6,40<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >17,11<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >6,60<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >6,56<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 117pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="156"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" ><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >56,36<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >13,60<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >17,95<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >12,38<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >5,29<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >9,63<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >9,14<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >15,36<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >17,37<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >20,70<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" ><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >62,35<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >11,92<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >15,60<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >12,99<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >4,72<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >8,12<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >8,14<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >16,42<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >12,03<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >18,85<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 94.15pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="126"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" ><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >22,72<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >22,62<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >16,86<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >17,11<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >18,09<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >17,05<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >14,59<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >14,20<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >15,71<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >13,92<o:p></o:p></span></p> </td> <td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 70.35pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="94"> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" ><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2,24<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >2,03<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >4,02<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >3,71<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >5,04<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >4,58<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >5,04<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >5,70<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >5,51<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >6,32<o:p></o:p></span></p> </td> </tr> </tbody></table> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:10;" lang="SV" >Sumber: Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik Indonesia yang di olah kembali<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Perkembangan variabel-variabel tersebut juga dapat dilihat pada grafik 2.1 dibawah ini:<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span></span></b><!--[if gte vml 1]><v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter"> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"> <v:f eqn="sum @0 1 0"> <v:f eqn="sum 0 0 @1"> <v:f eqn="prod @2 1 2"> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"> <v:f eqn="sum @0 0 1"> <v:f eqn="prod @6 1 2"> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"> <v:f eqn="sum @8 21600 0"> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"> <v:f eqn="sum @10 21600 0"> </v:formulas> <v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"> <o:lock ext="edit" aspectratio="t"> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:368.25pt;"> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\AMY\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.emz" title=""> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><span style="font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman";"><!--[if gte vml 1]><v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter"> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"> <v:f eqn="sum @0 1 0"> <v:f eqn="sum 0 0 @1"> <v:f eqn="prod @2 1 2"> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"> <v:f eqn="sum @0 0 1"> <v:f eqn="prod @6 1 2"> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"> <v:f eqn="sum @8 21600 0"> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"> <v:f eqn="sum @10 21600 0"> </v:formulas> <v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"> <o:lock ext="edit" aspectratio="t"> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:368.25pt;"> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\AMY\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.emz" title=""> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMY/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1025" height="269" width="491" /><!--[endif]--></span><br /><!--[endif]--><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">2.2. Analisis Data<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Dalam kajian ini, penulis mengunakan model struktural, dimana penulis memasukan variabel-variabel independen berupa jumlah uang beredar, M2, suku bunga kredit dan produk domestik bruto yang berhubungan dan berpengaruh terhadap variabel dependen Inflasi. Maka diformulasikan model fungsionalnya adalah sebagai berikut:<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -81pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Inflasi(Y) = f (Jumlah uang beredar(X1), M2 (X2), Suku bunga kredit(X3), <span style=""> </span>Produk domestik bruto(X4)).<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Y = f(X1, X2, X3, X4)<span style=""> </span>(1)<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Berdasarkan model fungsional diatas, maka dibentuk persamaan regresi sebagai berikut:<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Y</span><sub><span lang="SV" style="font-family:Arial;"> </span></sub><sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span></span></sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;">= α<sub>0 </sub>+ α<sub>1</sub></span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">x</span><sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;">1 </span></sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;">+ α<sub>2</sub></span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">x</span><sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;">2 </span></sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;">+ <sub><span style=""> </span></sub>α<sub>3</sub></span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">x</span><sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;">3 </span></sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;">+ α<sub>4</sub></span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">X</span><sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;">4</span></sub><span lang="EL" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>(2)<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="EL" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Dari hasil korelasi dan regresi yang diolah dengan menggunakan program SPSS (Terlampir) dapat dianalisis sebagai berikut:<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">1. Pada model summry diperoleh R Square = 0,959 artinya perubahan variabel Independen dalam hal ini jumlah uang beredar, M2, suku bunga kredit dan PDB dapat menerangkan variabilitas sebesar 95,9% perubahan Inflasi, sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">2.<span style=""> </span>Pada tabel Correlation, dapat kita baca bahwa hubungan (korelasi) jumlah uang beredar dan M2 dengan Inflasi adalah sangat kuat, yaitu 0,934 dan 0,964. Nilai positif artinya bila Jumlah uang beredar dan M2 naik, maka inflasi akan ikut naik. Sedangkan untuk variabel suku bunga kredit dan PDB tingkat signifikansinya masing-masing hanya sebesar 0,513 dan -0,471. Seterusnya dijelaskan bahwa <span style=""> </span>jumlah uang beredar dengan M2 signifikansinya sangat kuat yaitu 0,992. dan seterusnya suku bunga kredit dengan PDB juga sangat kuat yaitu -0,927. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">3. Menguji signifikansi hubungan linier antara inflasi dengan jumlah uang beredar, M2, suku bunga kredit, PDB.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Dalam tabel ANOVA, terbaca nilai F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >hit </span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">= 28,998. Sementara itu dari tabel nilai statistik F dengan derajat bebas V1 = 4 dan V2 = 5 pada taraf signifikansi 0.005 (F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >4;5;0,005</span><span lang="SV" style="font-family:Arial;"> ), kita peroleh nilai F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >tabel </span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">= 5,192. Jadi tampak bahwa :<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span><span style=""> </span>F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >hit</span><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span><span style=""> </span>F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >tabel<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" ><span style=""> </span></span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">28,998 <span style=""> </span>> <span style=""> </span>5,192<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Karena nilai F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >hit</span><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>><span style=""> </span>F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >tabel </span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">maka dapat disimpulkan ada hubungan linier. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Simpulan yang sama dapat kita peroleh dari perbandingan nilai sig dengan taraf signifikansi (α):<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Sig<span style=""> </span><span style=""> </span><span style=""> </span>α<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>0,001<span style=""> </span><<span style=""> </span>0,005<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Dengan demikian, model regresi yang dapat dipakai adalah:<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span></span><span lang="FI" style="font-family:Arial;">Y = -18,487 – 2,095 X1 + 3,108 X2 + 0,645 X3 + 1,572 X4<span style=""> </span>(3)<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>(-0,405)<span style=""> </span>(-1,888)<span style=""> </span>(3,180)<span style=""> </span>(0,67)<span style=""> </span>(0,411)<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span><span style=""> </span>Berdasarkan model regresi diatas, maka dapat diketahui bahwa perubahan tingkat inflasi signifikan dengan tingkat perubahan variabel jumlah uang beredar, M2, suku bunga kredit, PDB.<span style=""> </span><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Dari hasil keseluruhan analisis yang ada, dapat diketehui bahwa jumlah uang beredar sangat berpengaruh dan signifikan terhadap tingkat inflasi, dimana jumlah uang beredar berhubungan positif dan signifikan dengan inflasi, yang kemudian jika dibandingkan dengan teori yang ada maka hasil yang didapat yang menggambarkan kondisi yang terjadi di Indonesia sesuai dengan teori ekonomi makro yang ada.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><span style=""> </span>Dari hasil yang ada juga menunjukan bahwa M2 sebagai salah satu variabel makroekonomi juga berpangaruh dan signifikan terhadap tingat inflasi, dimana jumlah M2 berhubungan positif dan signifikan dengan inflasi, yang kemudian jika dibandingkan dengan teori makroekonomi yang ada, maka tentunya kondisi atau keadaan ini juga sesuai dengan teori yang ada.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Kemudian suku bunga kredit yang menurut teori ekonomi akan berbanding terbalik dengan tingkat inflasi juga menunjukan kondisi yang hampir sama akan tetapi dari hasil yang ada suku bunga kredit mempunyai hubungan yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah uang beredar dan M2, tetapi tetap mempunya hubungan yang linier dengan tingkat inflasi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Produk domestik bruto merupakan variabel selanjutnya yang dianalisis, dan hasil menunjukan bahwa PDB tingkat signifikansi hubugannya adalah negatif dan tidak terlalu signifikan dengan tingkat inflasi, kondisi ini sedikit bertentangan dengan teori ekonomi makro yang ada, dimana menurut teori PDB akan berhubungan positif dengan inflasi. Kondisi ini bisa terjadi dikarenakan pada awal tahun analisis yaitu tahun 1998, tingkat inflasi Indonesia berada dalam situasi hiperinflasi akibat dari krisis ekonomi dan moneter, dan kemudian pada pertengahan tahun analisis juga ada terjadi semacam fluktuasi tingkat inflasi akibat dari pengaruh variabel makro lainnya yang menyebabkan hasil analisis hubungan PDB dan Inflasi negatif. <span style=""> </span><span style=""> </span><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: center; text-indent: -9pt; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="SV" style="font-family:Arial;">KESIMPULAN<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Perubahan variabel Independen dalam hal ini jumlah uang beredar, M2, suku bunga kredit dan PDB dapat menerangkan variabilitas sebesar 95,9% perubahan Inflasi, sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain.</span><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Jumlah uang beredar berhubungan positif dan signifikan dengan inflasi, dengan tingkat signifikansi sebesar 0, 934.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">M2 berhubungan positif dan signifikan dengan inflasi, dengan tingkat signifikansi sebesar 0,964. <o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Suku bunga kredit berhubungan positif tapi tidak signifikan terhadap inflasi, karena tingkat signifikansinya sebesar 0,513.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">PDB berhubungan negatif tetapi tidak signifikan terhadap perubahan inflasi,<span style=""> </span>karena signifikansinya sebesar -0,471.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">Ada hubungan linier antara variabel independen (jumlah uang beredar, M2, suku bunga kredit dan PDB) terhadap variabel dependen tingkat inflasi. Nampak pada F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >hit </span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">> F</span><span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:8;" lang="SV" >tabel </span><span lang="SV" style="font-family:Arial;">dan juga sig < α<o:p></o:p></span></li></ol> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="FI" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="FI" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span lang="FI" style="font-family:Arial;">DAFTAR PUSTAKA<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI" style="font-family:Arial;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt; line-height: 150%;"><span lang="FI" style="font-family:Arial;">1. Aulia Pohan, Kerangka Kebijakan Moneter & Implementasinya di Indonesia, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2008.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">2. Lipsey, Courant, Purvis, Steiner, Pengantar Makroekonomi, Jilid satu, Edisi Kesepuluh, Binarupa Aksara, Jakarta, 1995.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt; line-height: 150%;"><span style="font-family:Arial;">3. Miranda <st1:place st="on">S Goeltom</st1:place>, The Indonesian Experience, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2007.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt; line-height: 150%;"><span lang="FI" style="font-family:Arial;">4. Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar, Edisi ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2006. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt; line-height: 150%;"><span lang="FI" style="font-family:Arial;">5. Samuelson Nordhaua, Ilmu MakroEkonomi, PT Media Global Edukasi, Jakarta, 2004.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">6. Sri Mulyono, Statistik untuk Ekonomi dan Bisnis, Edisi ketiga, Lembaga Penerbit FE Universitas Indonesia, Jakarta, 2006.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">7. <a href="http://www.bi.go.id/">www.bi.go.id</a><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt; line-height: 150%;"><span lang="SV" style="font-family:Arial;">8. <a href="http://www.bps.go.id/">www.bps.go.id</a><o:p></o:p></span></p>Publikasi Ekonomikuhttp://www.blogger.com/profile/01982054804493973403noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6214179759642480201.post-79630805772865690932008-05-13T15:56:00.002+09:002008-05-13T16:01:50.287+09:00LIBERALISME PEMBANGUNAN EKONOMI<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">I. Pendahuluan<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">1.1. Apa itu Liberalisme<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">liberal diambil dari bahasa Latin liber, free. Liberalisme secara etimologis berarti falsafah politik yang menekankan nilai kebebasan individu dan peran negara dalam melindungi hak-hak warganya. Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Liberalisme lahir dari sistem kekuasaan sosial dan politik sebelum masa Revolusi Prancis berupa sistem merkantilisme, feodalisme, dan gereja roman Katolik. Liberalisme pada umumnya meminimalkan campur tangan negara dalam kehidupan sosial. Sebagai satu ideologi, liberalisme bisa dikatakan berasal dari falsafah humanisme yang mempersoalkan kekuasaan gereja di zaman renaissance dan juga dari golongan Whings semasa Revolusi Inggris yang menginginkan hak untuk memilih raja dan membatasi kekuasaan raja. Mereka menentang sistem merkantilisme dan bentuk-bentuk agama kuno dan berpaderi. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Liberalisme antistatis, seperti yang diperjuangkan oleh Frederic Bastiat, Gustave de Molinari, Herbert Spencer, dan Auberon Herbert, adalah aliran ekstrem yang dikenal dengan anarkhisme (tidak ada pemerintahan) ataupun minarkisme (pemerintahan yang kecil yang hanya berfungsi sebagai the nightwatchman state. Liberalisme selalu menentang sistem kenegaraan yang didasarkan pada hukum agama. Oxford English Dictionary menerangkan bahwa perkataan liberal telah lama ada dalam bahasa Inggris dengan makna sesuai untuk orang bebas, besar, murah hati dalam seni liberal. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Pada awalnya, liberalisme bermaksud bebas dari batasan bersuara atau perilaku, seperti bebas menggunakan dan memiliki harta, atau lidah yang bebas, dan selalu berkaitan dengan sikap yang tidak tahu malu. Bagaimanapun, bermula pada 1776-1788, oleh Edward Gibbon, perkataan liberal mulai diberi maksud yang baik, yaitu bebas dari prasangka dan bersifat toleran. Maka pengertian liberal pun akhirnya mengalami perubahan arti dan berkembang menjadi kebebasan secara intelektual, berpikiran luas, murah hati, terus terang, sikap terbuka dan ramah. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Prinsip dasar liberalisme adalah keabsolutan dan kebebasan yang tidak terbatas dalam pemikiran, agama, suara hati, keyakinan, ucapan, pers dan politik dan juga kemudian berkembang di bidang ekonomi. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Dalam liberalisme budaya, paham ini menekankan hak-hak pribadi yang berkaitan dengan cara hidup dan perasaan hati.Liberalisme budaya secara umum menentang keras campur tangan pemerintah. Belanda, dari segi liberalisme budaya, mungkin negara yang paling liberal di dunia. Sedangkan liberalisme ekonomi mendukung kepemilikan harta pribadi dan menentang peraturan-peraturan pemerintah yang membatasi hak-hak terhadap harta pribadi. Paham ini bermuara pada kapitalisme melalui pasar bebas.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;">Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. </span><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Bandingkan Oxford Manifesto dari Liberal International: "Hak-hak dan kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui demokrasi yang sejati. Demokrasi sejati tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetujuan yang dilakukan dengan sadar, bebas, dan yang diketahui benar (<i>enlightened</i>) dari kelompok mayoritas, yang diungkapkan melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan pandangan-pandangan kaum minoritas.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">1.2. Apa itu Liberalisme Ekonomi<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Usaha masing-masing orang untuk memperjuangkan kemajuan dan kepentingan dirinya sendiri akan dengan sendirinya menghasilkan kesejahteraan dan kemajuan bagi seluruh masyarakat. </span><span style="font-family: Arial;">Demikianlah inti paham Adam Smith tentang the invisible hand, “tangan tak kelihatan” yang – sesuai paham “keselarasan yang ditetapkan sebelumnya” (oleh Tuhan, lih. </span><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Leibniz) – akan mengarahkan usaha-usaha individual pada kemajuan dan kepentingan bersama.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><span style=""> </span>Liberalisme ekonomis merupakan ajaran yang melahirkan kapitalisme. Ajaran ini meniupkan semboyan “laissez faire, laissez aller”, yang membiarkan pasar berjalan sendiri. Liberalisme menuntut orang agar bebas berdagang (menentang bea cukai), memilih tempat berproduksi dan bekerja, juga bebas mengadakan perjanjian kerja dan ekonomis lainnya. Negara diharapkan sedikit mungkin mengintervensi permainan bebas tawaran dan permintaaan baik di pasar komoditi maupun di pasar kerja. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><i><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Laissez-faire</span></i><span style="font-family: Arial;" lang="SV"> <span class="ipa">[l</span></span><span class="ipa"><span style="font-family: "Lucida Sans Unicode";" lang="SV">ɛ</span></span><span class="ipa"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">se f</span></span><span class="ipa"><span style="font-family: "Lucida Sans Unicode";" lang="SV">ɛ</span></span><span class="ipa"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">r]</span></span><span style="font-family: Arial;" lang="SV">) adalah sebuah frase bahasa Perancis yang berarti "biarkan terjadi" (secara harafiah "biarkan berbuat"). Istilah ini berasal dari diksi Perancis yang digunakan pertama kali oleh para psiokrat di abad ke 18 sebagai bentuk perlawanan terhadap intervensi pemerintah dalam perdagangan. Laissez-faire menjadi sinonim untuk ekonomi pasar bebas yang ketat selama awal dan pertengahan abad ke-19. Secara umum, istilah ini dimengerti sebagai sebuah doktrin ekonomi yang tidak menginginkan adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Pendukung doktrin ini berpendapat bahwa suatu perekonomian perusahaan swasta (<i>private-enterprise economy</i>) akan mencapai tingkat efesiensi yang lebih tinggi dalam pengalokasian dan penggunaan sumber-sumber ekonomi yang langka dan akan mencapai pertumpuhan ekonomi yang lebih besar bila dibandingkan dengan perekonomian yang terencana secara terpusat (<i>centrally planned economy</i>). Pendapat ini didasarkan pada pemikiran bahwa kepemilikan pribadi atas sumber daya dan kebebasan penuh untuk menggunakan sumber daya tersebut akan menciptakan dorongan kuat untuk mengambil risiko dan bekerja keras. Sebaliknya, birokrasi pemerintah cenderung mematikan inisiatif dan menekan perusahaan.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Dalam pandangan laissez-faire, kewajiban negara bukanlah melakukan intervensi untuk menstabilkan distribusi kekayaan atau untuk menjadikan sebuah negara makmur untuk melindungi rakyatnya dari kemiskinan, melainkan bersandar pada sumbangan dan sistem pasar. Laissez faire juga menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh memberi hak khusus dalam bisnis. Misalnya, penganut dari laissez-faire mendukung ide yang menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh membuat monopoli legal atau menggunakan kekuasaan dan paksaan untuk merusak monopoli de facto. Pendukung dari laissez-faire juga mendukung ide perdagangan bebas dalam artian negara tidak boleh melakukan proteksi, seperti tarif dan subsidi, di wilayah ekonominya.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Pada masa awal dari teori ekonomi Eropa dan Amerika, kebijakan laissez-faire terbentuk konflik dengan <i>merkantilisme</i>, yang telah menjadi sistem dominan di Britania raya, Spanyol, Perancis dan negara Eropa lainnya pada masa kejayaannya. Istilah <i>laissez-faire</i> sering digunakan bergantian dengan istilah "pasar bebas". Beberapa menggunakan <i>laissez-faire</i> untuk merujuk pada perilaku "biarkan terjadi, biarkan lewat" dalam hal-hal di luar ilmu ekonomi. Laissez-faire dihubungkan dengan Liberalisme klasik, libertarianisme dan Obyektivisme. </span><span style="font-family: Arial;">Asalnya dikenalkan dalam bahasa Inggris tahun 1774, oleh George Whatley, dalam buku <i>Principles of Trade</i>.<span style=""> </span><o:p></o:p></span></p> <table class="MsoNormalTable" style="margin-left: -34.5pt;" border="0" cellpadding="0"> <tbody><tr style=""> <td style="padding: 0.75pt; width: 2.5pt;" width="3"> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;"><o:p> </o:p></span></p> </td> </tr> </tbody></table> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;">Liberalisme memperjuangkan pembebasan petani dari kekuasaan tuan tanah, mendorong industrialisasi, pembagian kerja, perdagangan bebas antar-negara. </span><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Namun ia tidak menolak seluruhnya peran negara – meskipun mengambil alih paham “laissez faire” yang lebih moderat dari kaum Fisiokrat (aliran ekonomi di Perancis abad ke-18 yang menuntut kebebasan ekonomi total, melawan merkantilisme, tetapi atas dasar pengandaian bahwa hanya pekerjaan pertanian dapat menciptakan nilai ekonomis baru). Negara bertugas menciptakan syarat-syarat institusional minimal agar sistem ekonomi pasar dapat berjalan. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Liberalisme ekonomi dengan tegas ditolak oleh Paus Leo XIII karena tidak menjamin keadilan sosial. Penekanan yang terlampau ekslusif terhadap kebebasan inilah yang menghasilkan kesenjangan ekonomi yang begitu mencolok. Bahkan buruh termasuk dalam kalkulasi ekonomis, sehingga dijadikan komoditi dalam bentuk lain. Masalah-masalah struktural: keadilan sosial, pembangunan infrastruktur nasional dan internasional, dan, sejak paruh kedua abad ini, pemeliharaan keutuhan lingkungan hidup semakin tidak mampu ditanganinya. Kebebasan mengadakan perjanjian memungkinkan munculnya monopoli, kartel, trust dan bentuk-bentuk penyelewengan lain terhadap prinsip kebebasan ekonomis.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Liberalisme ekonomi sekarang merubah wajahnya dalam bentuk “neoliberalisme” atau, menurut cara bicara di Amaerika Serikat, lebih dikenal sebagai Neo-Konservatisme (“Neokon”). Sebagai tuntutan moral bagi kehidupan bersama yang beradab, liberalisme ekonomi mengabaikan solidaritas masyarakat, yang di tengah-tengahnya terdapat banyak warga miskin.Di satu pihak liberalisme berjasa mengakhiri ekonomi feodal dan tradisional yang tidak sesuai lagi dengan kondisi-kondisi masyarakat yang penuh ketidakadilan. Ia menghasilkan dinamika ekonomi modern yang memungkinkan pengatasan masalah kemiskinan dan mendasarkan tingkat hidup masyarakat modern.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Maka liberalisme ekonomi, berbeda dengan liberalisme politik, tidak seluruhnya berhasil memperoleh akseptasi dalam faham kenegaraan dan kemasyarakatan modern. Jelaslah bahwa negara harus menjalankan tugas-tugas penataan yang tidak diharapkan oleh liberalisme.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Ekonomi liberal adalah teori ekonomi yang diuraikan oleh tokoh-tokoh penemu liberal klasik seperti Adam Smith atau French Physiocrats Sistem ekonomi liberal tersebut mempunyai kaitannya dengan "kebebasan alami" yang dipahami oleh tokoh-tokoh ekonomi liberal klasik tersebut. Konsep dari ekonomi liberal ialah bergerak kearah suatu sistem ekonomi pasar bebas dan sistem berpaham perdagangan bebas. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Sistem ekonomi liberal klasik adalah suatu filosofi ekonomi dan politis. Mula-mula ditemukan pada suatu tradisi penerangan atau keringanan yang bersifat membatasi batas-batas dari kekuasaan dan tenaga politis, yang menggambarkan pendukungan kebebasan individu.Teori itu juga bersifat membebaskan individu untuk bertindak sesuka hati sesuai kepentingan dirinya sendiri dan membiarkan semua individu untuk melakukan pekerjaan tanpa pembatasan yang nantinya dituntut untuk menghasilkan suatu hasil yang terbaik, yang <i>cateris paribus</i>, atau dengan kata lain, menyajikan suatu benda dengan batas minimum dapat diminati dan disukai oleh masyarakat (konsumen).<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Garis berpaham ekonomi liberal telah pernah dipraktikan oleh sekolah-sekolah di Austria dengan berupa demokrasi di masyarakat yang terbuka. Paham liberalisme kebanyakan digunakan oleh negara-negara di benua Eropa dan Amerika. Seperti halnya di Amerika Serikat, paham liberal dikenali dengan sebutan <i>mild leftism estabilished</i>.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Dalam bidang ekonomi liberalisme merupakan reaksi terhadap struktur-struktur sosial dan ekonomi tradisional. Paham ini mendasarkan diri pada etika utilitaristik: kesejahteraan masyarakat diyakini sebagai hasil penjumlahan kesejahteraan masing-masing individu.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span class="mw-headline"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span class="mw-headline"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">1.2.1. Ciri ekonomi liberal</span></b></span><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p></o:p></span></p> <ul style="margin-top: 0in;" type="disc"><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Semua sumber produksi adalah milik masyarakat individu.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Masyarakat diberi kebebasan dalam memiliki sumber-sumber produksi.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Pemerintah tidak ikut campur tangan secara langsung dalam kegiatan ekonomi.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Masyarakat terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan pemilik sumber daya produksi dan masyarakat pekerja (buruh).<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Timbul persaingan dalam masyarakat, terutama dalam mencari keuntungan.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="FI">Kegiatan selalu mempertimbangkan keadaan pasar.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Pasar merupakan dasar setiap tindakan ekonomi.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Biasanya barang-barang produksi yang dihasilkan bermutu tinggi.<o:p></o:p></span></li></ul> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span class="mw-headline"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span class="mw-headline"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">1.2.2. Keuntungan dan kelemahan dari ekonomi liberal</span></b></span><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><a name="Keuntungan"></a><span class="mw-headline"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span class="mw-headline"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Keuntungan</span></b></span><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Ada beberapa keuntungan dari suatu sistem ekonomi liberal, yaitu:<o:p></o:p></span></p> <ul style="margin-top: 0in;" type="disc"><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;">Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi, karena masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah/komando dari pemerintah.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;">Setiap individu bebas memiliki untuk sumber-sumber daya produksi, yang nantinya akan mendorong partisipasi masyarakat dalam perekonomian.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Timbul persaingan semangat untuk maju dari masyarakat.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Menghasilkan barang-barang bermutu tinggi, karena adanya persaingan semangat antar masyarakat.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Efisiensi dan efektivitas tinggi, karena setiap tindakan ekonomi didasarkan motif mencari keuntungan.<o:p></o:p></span></li></ul> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><a name="Kelemahan"></a><span class="mw-headline"><b style=""><span style="font-family: Arial;"><o:p> </o:p></span></b></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span class="mw-headline"><b style=""><span style="font-family: Arial;">Kelemahan</span></b></span><span style="font-family: Arial;"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;">Selain ada keuntungan, ada juga beberapa kelemahan daripada sistem ekonomi liberal, adalah:<o:p></o:p></span></p> <ul style="margin-top: 0in;" type="disc"><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Terjadinya persaingan bebas yang tidak sehat.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="FI">Masyarakat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;">Banyak terjadinya monopoli masyarakat.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;">Banyak terjadinya gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi sumber daya oleh individu.<o:p></o:p></span></li><li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Pemerataan pendapatan sulit dilakukan, karena persaingan bebas tersebut.<o:p></o:p></span></li></ul> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Negara-negara yang menganut paham liberal di Asia antara lain adalah India, Iran, Israel, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Taiwan, Thailand dan Turki. Saat ini banyak negara-negara di Asia yang mulai berpaham liberal, antara lain adalah Myanmar, Kamboja, Hong Kong, Malaysia dan Singapura.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial; color: black;" lang="SV">1.3. Liberalisme di Indonesia <o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial; color: black;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; color: black;" lang="SV">Di bawah rejim kolonial, ekonomi daerah Indonesia dikuasai oleh perusahaan- perusahaan besar Belanda. Kegiatan ekonomi yang besar terdapat di sektor perkebunan yang dikelola oleh sejumlah <i>onderneming</i>. Bidang perdagangan dilaksanakan oleh lima perusahaan besar. Kegiatan-kegiatan itu semata-mata ditujukan untuk ekspor. Keuntungan dari kegiatan ini merupakan akumulasi modal bagi Kerajaan Belanda, sementara rakyat daerah Indonesia terus menerus diperas tenaganya. Sistim ekonomi kolonial yang penuh penghisapan ini terlanjur dilihat sebagai sistim ekonomi liberal. Maka liberalisme menjadi kata yang kotor dalam perbendaharaan Indonesia. Apa-apa yang berbau liberal secara naluriah segera hendak dicampakkan. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; color: black;" lang="SV">Sindrom kolonial ini barangkali memang begitu kuat sehingga selama 50-an tahun setelah merdeka liberalisasi ekonomi hanya bisa terlaksana secara setengah hati. Perumusan kebijakan di Indonesia, dan di banyak negara berkembang lain, sampai hari ini masih terus dihadapkan pada pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban yang tegas: “ Apakah ada alternatif terhadap sistim ekonomi liberal?” Berbagai jawaban bisa dicatat. Misalnya: “Barangkali tidak ada, <i>tetapi </i>sistim itu tidak tepat untuk dipakai.” Atau: “Tentu harus ada alternatifnya, <i>tetapi </i>masih harus ditemukan.” Maka upaya menangani persoalan ekonomi menjadi penuh ambivalensi, sarat ilusi dan umumnya gagal menciptakan kelembagaan ekonomi. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Yang diartikan dengan kelembagaan ekonomi adalah norma, prinsip dan aturan serta lembaga-lembaga yang menetapkan rambu-rambu dan menjaga agar rambu-rambu itu tidak dilanggar. Kegagalan membangun kelembagaan ekonomi menyebabkan ekonomi dikelola oleh kemauan orang, yang menggunakan wewenang karena mempunyai kekuatan politik, karena memegang senjata, atau karena menduduki jabatan birokrasi yang strategis. <span style=""> </span>Maka pengelolaan ekonomi terutama ditujukan untuk kepentingan orang bersangkutan atau kelompoknya dan bukan untuk kepentingan masyarakat. Alhasil, justru suatu sistim penghisapan yang terbentuk, dan lebih buruk lagi sebab penghisapan itu dilakukan oleh sesama bangsa sendiri. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Bila ambivalensi dan ilusi itu dapat dihilangkan, dan suatu sistim ekonomi liberal diadopsi sepenuh hati, akan segera tampak rambu-rambu apa yang perlu ditetapkan dan lembaga-lembaga ekonomi apa harus dibangun untuk menjadi agar rambu-rambu yang ada tidak dilanggar sambil terus-menerus memperbarui rambu-rambu itu. Sebab kehidupan ekonomi penuh dengan dinamika, baik karena teknologi dan inovasi, mau pun karena proses integrasi ekonomi secara regional dan global. Oleh sebab itu, kebijakan persaingan barangkali memang merupakan bagian integral dari proses liberalisasi dan globalisasi. Selain itu, suatu sistim pengaman sosial bisa diciptakan untuk mengatasi dampak negatif dari perubahan ekonomi dan siklus bisnis. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Liberalisme ekonomi berarti jaminan adanya kebebasan bagi <i>semua </i>insan ekonomi untuk menentukan sendiri apa yang akan dikonsumsi, apa yang akan diproduksi, bagaimana memproduksinya, dan untuk memperdagangkannya. Sistim ini tidak membenarkan bahwa seorang petani diharuskan menanam suatu komoditi pertanian tertentu dan diharuskan pula untuk menjualnya kepada orang atau lembaga tertentu. Liberalisme bukan tanpa aturan. Bahkan aturan dan pengaturan merupakan keharusan yang disepakati bersama. Tanpa aturan dan pengaturan kebebasan seseorang bisa mengurangi kebebasan orang lain, dan ini bertentangan dengan jiwa dari liberalisme ekonomi. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Seperti halnya dengan kehamilan, liberalisme ekonomi tidak bisa setengah-setengah. Liberalisasi ekonomi membebaskan insan ekonomi dari cengkeraman yang berkuasa. Liberalisasi ekonomi juga tidak bisa dilaksanakan setengah hati. Bagi ekonomi Indonesia, yang berangkat dari keadaan yang sangat statis di waktu lalu, proses liberalisasi tidak bisa dirampungkan dalam semalam. Barangkali memang dibutuhkan suatu pentahapan (<i>sequencing</i>). Analisa kebijakan ekonomi menganjurkan suatu urut-urutan liberalisasi atas pertimbangan ekonomi. Pertimbangan ekonomi politik menyatakan bahwa urut-urutan itu mensyaratkan pula suatu <i>political conditioning </i>agar liberalisasi itu mungkin dilakukan (<i>feasible</i>). Jadi, <i>desirability </i>dan <i>feasibility </i>harus bergandengan tangan. Hanya dengan modal ini liberalisasi bisa dilaksanakan dengan sepenuh hati. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Liberalisasi sepenuh hati mungkin hanya merupakan angan-angan. Analisa Andrew Rosser (2002) menyangsikan bahwa persyaratan politik dan sosial bagi liberalisasi sudah terpenuhi di Indonesia. </span><span style="font-family: Arial;" lang="FI">Liberalisasi mungkin memang akan terjadi terutama karena tekanan-tekanan keadaan, terlepas dari kenyataan apakah masyarakat telah siap menerimanya atau tidak. Itu lah mungkin inti cerita liberalisasi ekonomi di Indonesia. Deregulasi ekonomi yang dilaksanakan sejak pertengahan tahun 1980-an dipaksanakan oleh keadaan. Berbagai koreksi kebijakan sebelumnya telah diambil untuk mengatasi kemerosotan dalam daya saing non-migas sebagai akibat dari <i>Dutch disease </i>karena lonjakan harga minyak. Mata uang didevaluasi secara tajam pada tahun 1978, 1983 dan 1986. Tetapi dengan tiga devaluasi itu terlihat bahwa upaya tersebut jauh dari memadai. </span><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Yang diperlukan adalah suatu perubahan struktural, dan untuk itu diperlukan liberalisasi. Karena kata liberalisasi dianggap kotor, maka digunakan deregulasi yang saat itu lebih bisa diterima (Sadli, 2002). </span><span style="font-family: Arial;">Tantangan jaman, tantangan dari luar, khususnya globalisasi merupakan dorongan kuat bagi <st1:place st="on"><st1:country-region st="on">Indonesia</st1:country-region></st1:place> untuk terus melaksanakan liberalisasi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">II. Liberalisme Pembangunan Ekonomi di Indonesia<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">2.1. Sebelum Reformasi<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Masa sebelum Reformasi marupakan suatu masa dimana bangsa Indonesia dipimpin oleh seorang Presiden yang Otoriter dan bertangan besi, dimana bangsa ini dipimpinnya selama kurang lebih 32 tahun lamanya. Pada masa sebelum reformasi atau masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan pemerintahan orde barunya, pembangunan dilakukan disegala lini dengan fokus utama pada pembangunan sarana dan prasarana pembangunan yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Akan tetapi, pembangunan yang begitu gencarnya tidak didukung oleh sistem pemerintahan dan kepemimpinan yang memadai, yang berdampak pada adanya kesenjangan pembangunan antara provinsi, daerah, kota maupun dengan daerah pedesaan<span style=""> </span>dan pelosok, dan ini timbul sebagai akibat dari sentralisasi pembangunan yang tidak mengena sampai ke pelosok negeri ini.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Pembangunan yang dilakukan pada masa sebelum reformasi sangat rentan terhadap KKN dan dibarengi dengan tidak adanya kebebasan masyarakat atau lembaga lainnya untuk menyuarakan kemaunan atau ketidak setujuan atau protes dan ketidak puasan mereka terhadap pemerintah. Tidak adanya kebebasan dan iklim infestasi yang sehat mengakibatkan kurangnya pemerataan pembangunan, sebagai akibat dari KKN yang memberi peluang yang sangat besar kepada keluarga, kerabat dan kroni-kroni dari pemerintah yang berkuasa pada saat itu untuk bisa menguasai dan melakukan monopoli atas semua aktivitas dan proyek yang bersangkutan dengan infestasi dan pembangunan Indonesia pada masa itu.<span style=""> </span>Hal ini kemudian mendorong adanya konglomerasi-konglomerasi yang timbul dan berasar dari orang-orang atau kalangan terdekat tadi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Kongglomerasi, monopoli dan penguasaan infestasi pembangunan merupakan hal yang sangat bertentangan dengan semangat liberalisme pembangunan ekonomi yang menuntut adanya kebebasan dan mengurangi campurtangan pemerintah, dan memberi kebebasan bagi masyarakat untuk bisa mengelola aset atau kemampuan yang dimilikinya untuk dapat berkembang dan berusaha dalam dunia atau iklim bisnis yang sehat. Dengan demikian maka tentunya daerah daerah pada masa sebelum reformasi akan susah untuk berkembang terutama daerah-daerah diluar pulau Jawa yang letaknya jauh dari Jakarta. Dengan adanya kongglomerasi dan monopoli atas infestasi dan pembangunan tersebut, maka pemerintah atau pengusaha daerah yang berada didaerah akan sulit untuk mengembangkan dirinya untuk bisa mengembangkan usahanya atau membangu daerahnya untuk paling tidak bisa menyamai pembangunan di daerah Pulau Jawa. Dengan demikian juga dapat kita lihat pada masa itu betul-betul pemimpin dan pemerintahan berjalan dengan otoriter dan kebijakan-kebijakan<span style=""> </span>pembangunannya tidak mengena sampai ke pelosok Indonesia tetapi kebijakan-pembangunan tersebut hanya dinikmati oleh daerah tertentu dan individu-individu tertentu.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Memang harus kita akui bahwa Indonesia sempat menjadi atau dijuluki <i style="">macan Asia</i> yang sangat di segani dikawasan asia tenggara pada tahun 1996-1997, dimana pada saat itu Indonesia merupakan salah satu negara tujuan investasi dunia yang cukup menjanjikan. Akan tetapi berjalan dengan bergulirnya waktu, dibarengi dengan krisis yang melanda Dunia dan juga Asia, termasuk Indonesia didalamnya, maka hancurlah perekonomian Indonesia dan sangat terpuruh sehingga mengakibatkan banyaknya infestor baik dalam maupun luar negeri yang lari ke luar negeri meninggalkan Indonesia. Dasar ekonomi yang lemah dan tidak kuat sebagai dampak dari kongglomerasi dan pembangunan yang tidak merata mengakibatkan runtuhnya kongglomerasi tersebut dan menimbulkan banyaknya penutupan operasi perusahaan-perusahaan kongglomerasi tersebut dan mengakibatkan timbulnya banyak pengangguran yang terus meningkat. Kondisi krisis ini mendorong dan memangsa masyarakat dan tokoh-tokoh reformis untuk meneriakan reformasi dan pembaharuan disemua aspek, dan seperti yang kita ketahui, dengan adanya keberanian untuk meneriakkan reformasi dan pembaharuan itu maka runtuhlah pemerintahan yang berkuasa pada saat itu, dan menurunkan Soeharto dari kursi kepresidenannya. <span style=""> </span><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">2.2. Masa Sesudah Reformasi<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><span style=""> </span>Pada masa sesudah reformasi, pemerintahan mulai ditata dan dijalankan sesuai dengan arah dan semangat reformasi, yang menginginkan adanya perubahan dan pembaharuan disegala bidang dan aspek kehidupan. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.2pt;" lang="SV">Pada awalnya dibentuk Kabinet Reformasi Pembangunan yang menjalankan tugasnya pada saat negara sedang dilanda krisis ekonomi, sosial, dan politik. Sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi dampak krisis tersebut, telah dilakukan serangkaian upaya dan langkah yang pada saat bersamaan juga merupakan upaya untuk mewujudkan demokrasi ekonomi. Hal yang mendasar dalam kaitan ini adalah upaya untuk memberdayakan ekonomi rakyat.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.2pt;" lang="SV">Selanjutnya, dalam pelaksanaan demokrasi ekonomi harus dihindarkan terjadinya penumpukan aset dan pemusatan ekonomi pada seorang, sekelompok orang atau perusahaan yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan pemerataan.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Pemusatan kekuatan ekonomi atau penguasaan aset nasional pada sekelompok anggota masyarakat tertentu dalam bentuk monopoli dan oligopoli telah menimbulkan ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi. Ketimpangan struktur penguasaan aset ekonomi produktif akhirnya mengakibatkan terjadinya ketimpangan dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, budaya, politik maupun aspek kemasyarakatan lainnya. Oleh karena itu bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat telah disusun UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan<span style=""> </span>Usaha Tidak Sehat. Undang-undang yang akan berlaku efektif mulai 5 Maret 2000 tersebut pada pokoknya bertujuan untuk mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan yang sehat, sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha <span style="letter-spacing: 0.8pt;">yang sama bagi pelaku usaha besar, menengah dan kecil. </span></span><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.8pt;" lang="FI">Untuk </span><span style="font-family: Arial;" lang="FI">mendukung pelaksanaan UU tersebut, pemerintah membentuk komisi pengawas persaingan usaha, menyusun petunjuk dan peraturan pelaksanaan serta akan menyelenggarakan sosialisasi UU. Dalam rangka pengembangan perekonomian yang kompetitif dan efisien dilakukan berbagai penghapusan bentuk restriksi perdagangan antara lain penghapusan berbagai bentuk tata niaga dan hambatan impor bagi barang-barang yang dipergunakan untuk kegiatan produksi terutama yang bertujuan ekspor. Untuk itu, beberapa peraturan perundangan yang menghambat efisiensi perekonomian telah dicabut ataupun disempurnakan, antara lain: Keppres No. 42 tahun 1996 tentang Pembuatan Mobil Nasional; Keppres No. 20 tahun 1992 tentang Tata Niaga Cengkeh hasil Produksi Dalam Negeri; dan Keppres No. 50 tahun 1995 tentang Badan Urusan Logistik.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.2pt;" lang="SV">Dalam kaitan dengan kekuatan dan peran pelaku ekonomi, demokrasi ekonomi akan tercermin pada struktur ekonomi nasional yang lebih seimbang antara usaha dengan berbagai skala. Dalam hal ini diupayakan agar terwujud pengusaha menengah yang kuat dan besar jumlahnya, serta terbentuknya keterkaitan dan kemitraan yang saling menguntungkan antar pelaku ekonomi yang meliputi usaha kecil, menengah dan koperasi, usaha besar swasta dan Badan Usaha Milik Negara. Usaha kecil, menengah dan koperasi (UKMK) diberi prioritas dan dibantu dalam mengembangkan usaha serta segala kepentingan ekonominya agar dapat mandiri, terutama dalam </span><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.3pt;" lang="SV">pemanfaatan sumber daya alam dan akses kepada sumber dana.</span><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.1pt;" lang="SV"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.1pt;" lang="SV">Dalam upaya mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional, diperlukan penanaman modal asing yang sekaligus diharapkan dapat menjalin keterkaitan usaha dengan pelaku ekonomi rakyat. Dalam kaitan ini, untuk mengembalikan kepercayaan dunia usaha ditempuh kebijakan antara lain: penghapusan kewajiban memiliki surat persetujuan prinsip dalam pelaksanaan realisasi dan rekomendasi dalam permohonan<span style=""> </span>persetujuan penanaman modal; pelimpahan kewenangan kepada<span style=""> </span>daerah dalam hal penilaian dokumen AMDAL. Untuk lebih memberikan kemudahan kepada investor, titik pelayanan perijinan diperbanyak dengan memberikan kewenangan yang lebih besar kepada BKPMD dan perwakilan RI di luar negeri. Bagi penanam modal dalam rangka PMDN dapat mengajukan aplikasi dan memperoleh persetujuan investasi dari BKPMD atau BKPM tanpa adanya batasan nilai investasi. Demikian juga dalam rangka PMA, aplikasi dapat diajukan dan mendapatkan persetujuan investasi di Perwakilan RI di luar negeri atau BKPMD atau BKPM. Dengan demikian untuk menarik PMA ke Indonesia peran Perwakilan<span style=""> </span>Indonesia di luar negeri ditingkatkan tidak hanya di bidang promosi namun juga mencakup pelayanan penerimaan aplikasi dan pemberian persetujuan PMA. Pihak investor diberikan kebebasan untuk memilih unit pelayanan sesuai dengan kebutuhannya. Pedoman dalam tatacara penanaman modal dalam rangka PMA dan PMDN juga disempurnakan. Penanaman modal juga diberi kelonggaran perpanjangan waktu penyelesaian proyek yang<span style=""> </span>terhambat akibat adanya krisis ekonomi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.2pt;" lang="SV">Di bidang ketenagakerjaan, upaya perlindungan hak-hak<span style=""> </span></span><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.1pt;" lang="SV">pekerja khususnya mengenai kebebasan berserikat dan berorganisasi</span><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.2pt;" lang="SV"> dilakukan melalui reformasi peraturan perundang-undangan, termasuk meratifikasi ketentuan atau konvensi ILO. Pemerintah telah meratifikasi empat kelompok konvensi ILO yaitu: konvensi </span><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.1pt;" lang="SV">tentang kebebasan berserikat, konvensi tentang larangan kerja paksa,</span><span style="font-family: Arial; letter-spacing: 0.2pt;" lang="SV"> konvensi tentang larangan diskriminasi, dan konvensi tentang pekerja anak. Selain itu, dalam upaya memberikan iklim kerja yang lebih baik bagi seluruh masyarakat, juga diperbaiki Undang-undang ketenagakerjaan, dengan diterbitkannya UU No. 25/1997 pada waktu itu.</span><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Sejalan dengan semangat reformasi, pada tahun 2001, pemerintah mengeluarkan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang mana memberi kebebasan kepada daerah-daerah untuk dapat mengembangkan dirinya dan membuat kebijakan serta<span style=""> </span>melaksanakan pembangunan didaerahnya masing-masing. Dengan adanya desentralisasi atau otonomisasi daerah ini, maka daerah bisa lebih bebas dan leluasa melakukan pembangunan berdasarkan potensi yang dimilikinya dan tentunya hal ini lebih terarah dan lebih mengena dan bermanfaat bagi daerah-daerah tersebut, selain untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dari daerah-daerah yang sudah maju, juga untuk dapat membuktikan dan menyatakan eksistensi dan jati diri daerah masing-masing untuk nantinya bisa bersaing dengan sehat dan sama-sama membangun Indonesia tercinta. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Dengan adanya otonomisasi, maka daerah-daerah sudah mulai sedikit demi sedikit membangun daerahnya dan bangkit dari ketertinggalan dan keterpurukan pembangunan dan ekonomi. Sejalan dengan ini, bangsa Indonesia sedikit demi sedikit juga mulai terlebas dari belenggu krisis multi dimensi termasuk krisis ekonomi, maka bangsa Indonesia mulai menjalankan dan menegakkan demokrasi dengan memberikan kebebasan bagi masyarakatnya untuk dapat memilih sendiri anggota DPR/MPR dan juga Presiden secara langsung dengan diadakannya PEMILU yang sangat bebas dan demokratis. Dengan terpilihnya anggota DPR/MPR dan Presiden yang demokratis, maka demokratisasi yang juga melambangkan liberalisme dalam menentukan sikap dan pilihan sudah terjadi dan diharapkan bisa terus dipertahankan dan bahwa diusahakan lebih demokratis lagi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Dengan adanya pemerintahan yang demokratis, maka tentunya tida ada satu pihak atau kalangan tertentu yang berkuasa atau memerintah serta membuat peraturan sesuai kemaunnya sendiri. Pemerintahan yang demokratis memberikan kesempatan dan kebebasan untuk mayarakat dan kalangan dunia usaha untuk dapat mengembangan dirinya dan usahanya kearah atau sesuai dengan bidangnya masing-masing, tetapi tentunya harus mematuhi hukum danperuntdangan yang berlaku. Dengan adanya demokratisasi ini, maka sangat membuka peluang untuk terciptanya iklim bisnis dan usaha yang kondusif yang bisa menjadi peluang kita untuk meningkatkan perekonomian bangsa ini.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV">Dengan adanya peningkatan derajat ekonomi dan pembangunan, maka akan membuka peluang bagi peningkatan permintaan demokrasi yang besar dari masyarakat, dengan harapan pemerintahan yang lebih demokratis akan lebih dapat meningkatkan pembangunan ekonomi menuju suatu kondisi ekonomi dan pembangunan yang lebih baik lagi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">III. Liberalisme Ekonomi, Perdagangan dan Globalisasi.<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><b style=""><span style="font-family: Arial;" lang="SV">3.1. Liberalisasi Ekonomi dan Perdagangan<o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; color: black;" lang="SV">Kebijakan Persaingan (<i>competition policy</i>) kini sudah menjadi agenda internasional. Terdapat desakan kuat agar aturan main yang diterapkan dalam berbagai ekonomi menjamin terjadinya persaingan yang sehat, yaitu terjadinya <i>level playing field</i>, di mana aturan yang sama dikenakan pada semua pemain. Desakan serupa ini timbul karena proses globalisasi. Bahkan dengan semakin maraknya <i>international mergers and acquisition (M&A) </i>lahir usulan untuk merumuskan dan menerapkan suatu <i>international competition policy</i>, sebab dikhawatirkan bahwa kebijakan nasional di bidang persaingan tidak dapat mengatasi persoalan oligopoli di pasar internasional yang diakibatkan oleh proses M&A itu.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; color: black;" lang="SV"><span style=""> </span><span style=""> </span>Merumuskan dan menerapkan kebijakan persaingan bukan sesuatu yang mudah. Indonesia merupakan salah satu dari sejumlah kecil negara berkembang yang menerapkan kebijakan persaingan. Penerapan ini merupakan bagian dari program reformasi ekonomi yang digariskan dalam program pemulihan ekonomi yang didukung oleh IMF. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; color: black;" lang="SV"><span style=""> </span>Perdebatan mengenai perlu tidaknya Indonesia mempunyai kebijakan persaingan sudah lewat. Barangkali persoalannya terletak pada penyempurnaannya dan kemampuan untuk melaksanakannya (<i>enforcement</i>). Namun yang menarik untuk diketahui adalah bahwa ketika persoalan kebijakan persaingan ini mulai dibicarakan di Indonesia ada pendapat bahwa barangkali jalan yang lebih mudah untuk menciptakan iklim persaingan di dalam negeri adalah dengan membuka (meliberalisasi) pasar. Sebab sebagian terbesar masalah persaingan terjadi karena sejumlah industri (atau perusahaan) memperoleh perlakuan khusus, dan umumnya perlaku